[Feature] Kenya Need to Rising

The feature was based on this video:

Dalam 49 tahun terakhir, sangat banyak skandal politik yang terjadi di Kenya. Begitu banyak dampak yang disebabkan olehnya. Diperkirakan hingga $1 BN hilang akibat korupsi pada 2002 dan 2005 sehingga kebanyakan masyarakat Kenya hidup dibawah tingkat kemiskinan $1 per hari dan setelah pemilihan ulang presiden Kibaki pada desember 2007, lebih dari 1.100 orang terbunuh dan 600.000 dipindahkan secara paksa. Sejak 1963 mereka terjajah oleh parlemen tapi sekarang begitu ada kesempatan maka saatnya mereka untuk membuat perubahan untuk masa depan.

Sebuah generasi baru membuat perubahan dari dasar.

Inilah Boniface Mwangi, 29 tahun. Seorang aktivis muda yang tangguh untuk berada dibalik kamera untuk berperang dengan korupsi politik. “Kenya adalah salah satu Negara terindah di dunia tapi masyarakatnya sangat pengecut”. Fakta itulah yang kemudian mendorong hatinya untuk melakukan sesuatu untuk memperbaiki rumahnya yang kian porak poranda, Kenya.

Malam itu pukul 8 di Nairobi, Boniface bersama timnya tengah mempersiapkan aksi pertama mereka untuk kontes korupsi politik. Mereka berencana membuat sebuah graffiti besar di tengah kota yang menunjukkan penentangan terhadap permasalahan politik di Kenya yang selama ini mereka hanya diam meratapi. Korupsi, Impunity serta perampasan tanah dan kini mereka datang untuk mematahkan hukum yang berlaku dan menyatakan kebenaran serta keluar dari zona aman.

Pukul 10 malam, ketika Nairobi sudah tenggelam dalam gelap, Boniface dan tim menuju TKP. Mereka harus bergerak cepat karena waktu yang dimiliki sangat sempit. Ditambah lagi karena ini merupakan sesuatu yang illegal sehingga cukup beresiko dan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, salah satunya menghindari perhatian polisi. Gambar seekor vulture terpampang indah sebagai simbol daripada anggota parlemen yang rakus, hidup dengan uang pajak, memperkosa ibu dan merampas tanah mereka. Inilah senjata pertama yang mereka gunakan untuk berbicara dengan masyarakat, Negara dan para petingginya.

“seluruh idenya digunakan untuk membangunkan pikiran masyarakat terutama kaum muda-mudi”, jelas Ururu, sang graffiti arts.

IT’S THE SHOW TIME! Penduduk tercengang melihat ada sesuatu yang berbeda di salah satu sudut kota Nairobi itu. “..tapi para idiot itu masih memilihku” terdengar orang-orang menggumam membaca tulisan yang tertera di graffiti tersebut. “kita adalah si idiot itu!” sahut orang yang lain.

Seminggu kemudian, aksi tersebut menjadi isu dalam berita nasional. Polisi pun dikerahkan untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas semua itu. “Disana banyak politisi yang membuat graffiti berisikan slogan2 mereka sperti Deputy Minister Uhuru Kenyatta tapi hanya AKU yang mendapatkan surat panggilan”, tegasnya.

Beberapa politisi menghampiri Boniface, mengajaknya bekerjasama dengan iming-iming uang dan masa depan yang lebih baik untuk anaknya. Tapi, Boni tetap berkata tidak dan ancaman pun datang kepadanya. Beberapa hari setelah itu, Boni dipanggil oleh pihak kepolisian. Tidak kehabisan akal dia pun segera membuat post di Facebook, mengorganisasi orang-orang untuk datang ke kantor polisi untuk meminta dukungan sebagai seorang anonymous artist.

Rencananya pun berjalan dengan baik, massa terkumpul cukup banyak. Mereka berjalan menuju kantor polisi dengan menggunakan t-shirt bertuliskan Heal the Nation menyerukan semangat perubahan kepada Kenya. Boniface pun digiring keluar sel disambut oleh sorak sorai massa. Ia bebas tanpa denda. Dari sini tampak jelas bahwa Kenya mengenakan hukum secara selektif. Kepada orang miskin dan lemah, mereka akan datang dengan penuh paksaan. Sementara kepada orang yang kaya dan mencuri banyak uang, mereka akan menawarkan perlindungan.

Boni kembali ke pekerjaan awalnya sebagai jurnalis. Akan tetapi hal itu malah membuatnya tertekan, marah bahkan berpikir tentang bunuh diri. Bagaimana bisa dia ditugaskan untuk melindungi seorang penjahat. Tapi ia berpikir lagi, daripada membunuh diri lebih baik ia keluar dari pekerjaannya.

Sebagai seorang jurnalis foto, jam terbang Boni sudah tidak perlu diragukan lagi. Foto-fotonya tentang korban kerusuhan telah membawa dia memenangkan global awards. Dia menyadari kalau foto-fotonya memiliki kekuatan. Sehingga dia menggunakanya sebagai alat untuk menyampaikan kemarahan dari masyarakat Kenya. Hal ini juga yang mendorong terciptanya Picha Mtaani (street exhibition) dan dia telah memamerkan foto-fotonya pada 20 kota di Kenya sejak 2009 dan disaksikan oleh sebanyak 700.000 orang. Banyak diantara mereka yang tersentuh melihatnya walaupun di satu sisi membuka luka lama.

Boniface dan tim menyiapkan graffiti kedua. Namun kali ini perasaan takut dan khawatir menyelimuti dirinya. Dia tahu ‘mereka’ mendengarkan telepon dan mengetahui percakapannya bahkan tahu kalau beberapa surat yang kami tulis sudah di baca. Oleh karena itu dia pikir, “kami harus lebih pintar”.

Ketika dia berada di Naivasha untuk menjenguk pameran fotonya, ia mengalami sebuah penolakan yang agak tidak masuk akal. Disebabkan oleh foto presiden dan perdana menteri yang tengah menangis, pamerannya harus di tutup (secara paksa) oleh komisaris daerah disana. Padahal dia telang mengantongi izin sebelumnya.

Kembali ke Nairobi. Boni dan tim telah mempersiapkan pertunjukan terbesarnya. Mereka menyiapkan 49 peti mati yang mewakili setiap tahun impunity politicians sejak merdeka. Di atas setiap peti mati itu ditempel gambar siluet vulture dilabeli dengan skandal2 yang terjadi di Kenya sepanjang sejarah dan ditulis “Bury the Vulture with your vote” sebagai pesan kpd orang2 yang telah terlibat dalam semua kekejaman dan hal-hal semacam ini. Untuk mengubur dosa-dosa dan kejahatan serta semua hal buruk yang mereka lakukanlah yang akan kita kubur.

Awalnya sulit bagi Boniface untuk mengatakan kepada mereka tujuan yang sebenarnya karena hanya dendam dan rasa sakit hati yang merasuki mereka melihat massa semakin merusuh. Tapi itu tak berlangsung lama, ke-49 peti itu kemudian diletakkan didepan gedung parlemen dan massa meninggalkan lokasi dengan damai dan pasrah. Sesuai dengan kampanyenya A BALLOT REVOLUTION,  a peaceful mass demonstration of the love of our nation.

Dan benar saja 15 menit kemudian semua peti itu diangkut. “Kita tidak boleh hilang harapan. Perubahan tidak datang dalam semalam..mungkin apa yang aku lakukan hari ini kelak akan dicapai oleh anakku. Tapi doaku adalah hal ini lebih cepat terjadi daripada nanti”, tutupnya.

Dua calon presiden teratas sedang menunggu diadili atas kejahatan terhadap masyarakat setelah pemilu 2007. Boniface akan kembali membuka pameran dalam rangka menuntun pemilihan selanjutnya pada 2013.

ps: watch the video and you will know what and how life is. we could learn many things from that occasion..🙂
love and peace from me..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s