Montir keliling ala lady rocker

Oleh: Eka Laili Rosidha

Pagi itu angin bertiup cukup kencang di sekitar kawasan Tangerang kota. Dari kejauhan tampak sesosok wanita berkaus hijau tua dipadu dengan celana jeans belel tengah berkutat dengan gelas plastik dan sebungkus kopi. Sekilas, wanita ini tampak seperti pedagang minuman keliling biasa. Membawa beberapa kardus minuman botol dan termos diatas gerobak berwarna oranye yang lebih mirip dengan rak bertuliskan “Teh Botol”. Tak lama kemudian, gelas berisikan kopi sudah siap di tangan dan dia berikan kepada seorang pemuda yang tengah duduk di trotoar. Semakin mendekat, wanita ini tersenyum kepada saya. Dengan rambut terurai ala lady rocker era 90-an, saya tidak menyangka perempuan yang biasa dikenal dengan nama Ida ini begitu baik dan ramah.

DSC_4124

Farida Hamdini (click image to enlarge)

Disinilah saya menemukan pemandangan yang agak berbeda dari biasanya. Dibawah kotak-kotak minuman yang dijualnya, terselip sebuah tabung besar lengkap dengan selang panjang. Karena warna tabung yang senada dengan warna rak, membuat saya tidak menyadari itu adalah tabung kompresor. Ya, tabung yang dipakai untuk menambah angin pada ban motor itu terletak persis dibawah minuman dagangan Ida. Sudah  hampir 17 tahun ini Ida bekerja sebagai “Montir” keliling untuk membantu suaminya memenuhi ekonomi keluarga.

“Awalnya suami yang profesinya seperti ini, dulu suka bantu-bantu.. lama-lama ikut jatuh cinta sama kerjaan ini. Yang bikin alat-alat ini juga suami saya, tapi karena penglihatan dia sudah mulai berkurang, saya jadi mata dia dan lama-lama saya yang dominan bekerja.”

Bersama suaminya, Sutarya, mereka sejak dulu bekerja sebagai montir. Akan tetapi, dahulu mereka menjalankan usahanya dengan menyewa sebuah ruko. Sayangnya, karena semakin lama penghasilan yang didapat semakin menipis, Ida dan suaminya beralih menjadi montir keliling hingga sekarang. Memiliki enam orang anak membuat Ida mau tak mau harus ikut membantu suaminya demi menambah penghasilan keluarga. Apalagi lima dari empat dari enam anaknya masih membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Bahkan kini dapat dikatakan Ida menjadi tulang punggung utama sejak kondisi kesehatan suaminya menurun.

Penghasilan yang didapatnya memang tidak besar. Untuk menjadi montir atau perbaikan-perbaikan Ida mendapat Rp 100.000-Rp 150.000 perhari. Sedangkan dari hasil menjual minuman hanya sedikit, karena ida menyajikan minuman-minuman itu untuk customernya.

“Paling buat orang2 yang tambal ban atau isi angin disini kalau habis dorong2 motor kan capek, haus.. Cuma nyediain untuk itu aja sih gak khususin jualan minuman.” Terangnya.

Setiap hari Ida dan suami mengawali perjalanan mencari rezeki menuju Pizza Hut Tangerang Citydengan menggunakan gerobak motor hasil rancangan suami. Beruntung jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Kemudian menjelang siang dia akan berpindah lokasi kedepan halte salah satu kampus yang letaknya juga tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Sementara itu, suaminya tidak berpindah tempat. Selama bekerja, Ida acap kali membawa serta anak bungsunya, Zaki yang masih balita, dan siangnya anak Ida yang masih duduk di bangku SMP akan beralih menemaninya mangkal. Pasangan suami istri ini bekerja sejak pukul enam pagi hingga pukul sepuluh sampai dua belas malam demi seperak-dua perak uang.

Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi wanita kelahiran Cirebon, 11 Juli 1970 ini dalam menjadi montir keliling. Berbagai macam suka duka telah dia rasakan. Awal-awal bekerja sebagai montir, salah satu perkakasnya pernah “mental” mengenai lehernya hingga dia pingsan selama enam jam. Selain itu juga banyak orang yang mencemoohnya, merasa tidak percaya dengan kemampuan Ida memperbaiki onderdil motor.  Bahkan Ida terkadang disalahkan apabila ada kerusakan yang bukan disebabkan olehnya.

“banyak pengalaman saya, kalau diceritain nggak bakal habis satu buku. Kalau saya punya diary kayak anak-anak sekarang mah mungkin udah abis..”

Resiko lain yang dihadapi oleh Ida selama bekerja sebagai montir adalah berhadapan dengan Satpol PP. Maklum saja, sebagai montir keliling ida tidak memiliki tempat mangkal yang tetap apalagi zurat izin. Jadi, apabila satpol PP muncul, dia akan cepat-cepat kabur atau bersembunyi.

“Satpol PP musuh saya.. ya.. nggak nyalahin mereka sih, mereka kan juga tugas.”

Namun, dibalik profesinya yang keras itu, Ida memiliki sisi lain yang mengejutkan. Sebelum bekerja sebagai montir, ida merupakan seorang ibu rumah tangga biasa yang merawat anak-anak dirumah. Menariknya, ida memiliki hobi menulis puisi dan cerita. Dulu dia sering mengirimkan karya-karyanya itu ke majalah-majalah lokal di Bandung yang lumayan menghasilkan.

Kerinduan yang sangat

Telah membuat langkahku tertatih

Kesunyian taman hati

Kini berhias bayangan dirinya yang samar

Seperti menungguku di ujung jalan sana….

Penggalan puisi  diatas merupakan buatan asli Ida yang dia persembahkan untuk idolanya, Michael Jackson ketika King of Pop itu wafat pada 2009 lalu. Selain gemar menulis puisi, Ida juga merupakan fans dari selebriti legendaris dunia itu sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bahkan, saking terobsesinya, Ida sempat mengikuti kursus bahasa Inggris selama satu tahun delapan bulan demi mendalami Michael Jackson.

Sayangnya, sang suami kurang mendukung hobi ida ini. Sutarya menganggap hal ini tidak berguna karena dia kurang paham dengan hal-hal semacam ini.

Beruntungnya, Ida benar-benar seorang wanita dan istri teladan. Tidak ada rasa menyesal pada dirinya karena dia tidak dapat mengembangkan hal-hal yang dia sukai demi suami dan keluarga. Dia memegang teguh prinsip dan tanggung jawabnya saat ini.

“Kalau bisa dibilang profesi ini jauh dari pribadi saya, cita-cita saya. Tapi yang penting kita nikmatin..”

Ida merupakan satu dari skeian juta wanita di dunia yang patut kita contoh. Sesulit apapun, suka atau tidak terhadap suatu hal, yang penting kita harus ikhlas menjalaninya. Karena dengan keikhlasan segalanya akan terasa lebih mudah dan ringan.

“Nikmati kerjaan.. dan bolehlah emansipasi wanita, tapi di hal yang positif. Bukan berarti kalau kita bergaul di jalanan kita juga harus ikut mabuk-mabukan”-Farida Hamdini/Ida-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s