Aksi Damai ‘the Agent of Change’

Sekumpulan mahasiswa dibalut almamater biru berkumpul di depan kawasan Monumen Nasional. Dari tangan mereka, terulur tangkaian bunga berhiaskan tulisan “we need you” atau “let’s care without scare”. Bunga-bunga tersebut dibagikan kepada setiap orang yang ada di sekitar kawasan Monas hari itu, 12 Mei 2013. Mereka menyampaikan aksi damai memperingati peristiwa besar bersejarah yang sampai detik ini masih menimbulkan luka yang cukup dalam.

Peristiwa kelam itu terjadi lima belas tahun lalu. Kala itu, Soeharto, terpilih menjadi presiden untuk ke-32 kalinya. Terhitung sejak 1967-1998 beliau menduduki posisi orang nomor satu di Indonesia. Selama itu pula banyak hal yang telah beliau lakukan terhadap Indonesia seperti memberantas paham Komunis, mencanangkan program Keluarga Berencana, serta program wajib belajar sembilan tahun. Kesemuanya itu tentu saja beliau lakukan untuk menjadikan bangsa ini lebih baik lagi. Disamping itu, ternyata masalah hukum dan kerugian lain yang ditimbulkan selama beliau memimpin Negara ini memberikan dampak yang begitu pelik. Bahkan membekas hingga belasan tahun.

12 Mei 1998.. Indonesia pecah. Tragedi ini dipicu karena krisis ekonomi yang melanda Negara-negara di Asia termasuk Indonesia. Masyarakat yang tadinya diam, mulai geram dan menjadi anarkis. Kerusuhan tidak lagi dapat dihindari di seluruh wilayah. Kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung dan Surakarta. Mereka menuntut gerakan reformasi dengan memaksa Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden.

Kerusuhan berlangsung hingga 15 mei 1998. Sepanjang itu, banyak toko dan perusahaan yang dijarah, dihancurkan dan dibakar oleh massa. Tak terhitung berapa orang yang terluka bahkan terbunuh. Warga Indonesia keturunan Tionghoa juga menjadi sasaran utama kekejaman massa. Dari mulai penyiksaan, pemerkosaan hingga pembunuhan dilakukan terhadap perempuan keturunan Tionghoa.

Tak hanya itu, keadaan yang sudah kacau balau ini juga menyebabkan gugurnya empat mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka adalah Elang Mulyana, Hafidin Royan, Hendrawan Sie dan Hery Hertanto.

Kala itu mahasiswa Trisakti yang merasa simpati akan kerusuhan saat itu, berinisiatif untuk melakukan gerakan aksi damai. Sayangnya, keadaan dan lingkungan tidak mendukung gerakan tersebut. Kondisi massa yang sudah tak terkendali menyebabkan kericuhan yang makin parah. Diduga karena adanya provokasi sehingga aparat lepas kendali atas senjatanya dan mengenai keempat mahasiswa tersebut yang notabene tidak turut dalam demonstrasi.

“ini adalah suatu moment yang harus kita ingat. Karena moment inilah reformasi terjadi di Negara kita. Gue ngerasain apa yang almarhum rasain saat turun ke jalan..” Jelas Zethira, seorang mahasiswi yang ikut serta dalam aksi damai 12 Mei di Monas lalu.

Sejak peristiwa tersebut terjadi, mahasiswa dan seluruh jajaran warga Universitas Trisakti rutin memperingati moment 12 Mei itu dengan melakukan beberapa kegiatan. Salah satunya yaitu dengan melakukan aksi damai, dengan turun ke jalan setelah sehari sebelumnya mengadakan ‘malam gelora’ untuk merenungkan peristiwa 12 Mei 1998. Hal ini mereka lakukan sebagai wujud peduli terhadap keempat mahasiswanya yang gugur karena tanpa adanya kejadian itu reformasi tidak akan terlaksana.

Selain itu mereka juga ingin adanya penuntasan kasus terbunuhnya empat aset bangsa itu. Meminta pertanggung jawaban pemerintah terutama untuk kesejahteraan keluarga korban. Salah satu ibu dari korban, Hendrawan Sie yang bernama Karsiah rela hijrah ke Jakarta demi mendapatkan keadilan HAM atas kasus yang menewaskan anak satu-satunya itu.

Sejak tahun 2003 wanita yang akrab dipanggil ‘Bunda’ Karsiah ini dipekerjakan di Koperasi Karyawan Trisakti. Dia juga tinggal di belakang kampus Trisakti menunggu rumah milik Universitas Trisakti. Bunda juga mendukung gerakan aksi damai yang dilakukan mahasiswa Trisakti tiap tahunnya.

Aksi damai ini dilakukan bukan hanya untuk memperingati, tapi juga untuk mengajak masyarakat peduli. Peduli akan sebuah kasus yang telah membawa perubahan besar terhadap bangsa ini. Bersama-sama menjadi satu rasa satu hati sehingga muncul rasa solidaritas dan kekeluargaan memperjuangkan Hak Asasi Manusia.

“Kami menuntut keadilan tapi tidak dengan kekerasan atau sikap anarkis, shingga peristiwa 12 mei tidak terulang kembali.” Tambah nya lagi.

Oleh karena itulah pada 12 Mei 2013 mereka kembali melakukan aksi damai dengan membagikan bunga. Yang mana setiap kalimat dalam bunga tersebut memiliki arti tersendiri. “We need You” menunjukkan bagaimana mereka membutuhkan masyarakat luas untuk mendukung gerakan ini secara positif. Karena selama ini banyak orang yang memandang aksi ini sebagai kegiatan yang percuma.

Atau “let’s Care without Scared” yang berarti mengajak peduli tanpa harus takut. Dalam hal ini mengajak masyarakat untuk jangan takut untuk peduli terlebih lagi yang di pedulikan itu adalah sesuatu yang benar. Berbagai cara telah dilakukan untuk mendapatkan keadilan atas kasus penembakan tersebut. Termasuk mengirim surat langsung ke Presiden. Namun hasilnya tetap nihil, no response.

Sebagai Negara hukum, seharusnya kasus seperti ini tidak dibiarkan selama belasan tahun lamanya. Jangan beranggapan status ‘mahasiswa’ itu bisa diremehkan. Selama keadilan belum didapatkan, mahasiswa Trisakti tidak akan tinggal diam. Sebagai agent of change mereka akan terus berusaha mengungkap kebenaran yang ‘harusnya‘ ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s